Sitename

Description your site...

Ketergantungan Pangan Benar-benar Membuat Kaltim Rentan Inflasi

Ketergantungan Pangan Benar-benar Membuat Kaltim Rentan Inflasi

KALAMANTHANA, Samarinda – Ketergantungan Kaltim akan pasokan pangan dari luar daerah, menjadikan Provinsi ini sangat rentan terhadap inflasi. Berdasarkan catatan Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Kalimantan Timur komoditas bahan pangan rentan terhadap risiko kenaikan harga atau inflasi, terutama karena dipasok dari luar daerah seperti cabai, bawang merah, dan sejenisnya.

“Curah hujan yang tinggi di Pulau Jawa menyebabkan gagal panen berbagai jenis sayur, padahal selama ini Kaltim mengandalkan pasokan dari Jawa, kondisi ini akan memicu naiknya kebutuhan pangan di Kaltim,” ujar Kepala BI Kaltim Mawardi Ritonga di Samarinda, Sabtu.

Untuk mengatasi ini, menurut Mawardi, diperlukan kerja sama dan koordinasi solid antar pihak, guna memastikan ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi bahan pangan pokok, penyediaan infrastruktur, dan sarana logistik yang lebih baik, bahkan perlu komunikasi efektif dengan masyarakat.

Kemudian diperlukan keterlibatan aparat hukum dalam pengawasan pra dan pascapanen, karena hal ini menyangkut pada kelancaran distribusi hasil panen di pasar atau kepada masyarakat.

Sedangkan, di hulu, pemerintah perlu terus mendorong tercapainya peningkatan produksi bahan pangan di kabupaten/kota, sehingga Kaltim memiliki ketahanan pangan dan tidak seterusnya bergantung pada daerah lain.

Oleh sebab itu, Kaltim yang rentan terhadap terjadinya inflasi, BI Kaltim bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) akan memperkuat koordinasi, sehingga kerentanan tersebut bisa ditanggulangi.

Secara riil, lanjut Mawardi, inflasi yang terjadi di Kaltim sepanjang Maret 2016 sebesar 0,24 persen, sama dengan inflasi yang terjadi di bulan sebelumnya.

Namun, angka tersebut masih lebih tinggi ketimbang inflasi nasional yang tercatat 0,19 persen.

Berdasarkan kota pembentuk inflasi pada Maret 2016, maka Samarinda mengalami inflasi 0,44 persen, kemudian Balikpapan mengalami penurunan harga (deflasi) 0,44 persen.

“Deflasi yang terjadi di Kota Balikpapan lantaran meningkatnya dari sisi penawaran, khususnya dari kelompok bahan makanan seperti daging ayam ras, ikan layang, bayam, dan telur,” kata Mawardi.

Tags: ,

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan