Sitename

Description your site...

Aty Djoedir: Wajib Belajar 12 Tahun Tekan Pernikahan Dini

Aty Djoedir: Wajib Belajar 12 Tahun Tekan Pernikahan Dini

KALAMANTHANA, Buntok Wakil Bupati Barito Selatan, Satya Titiek Atyani Djoedir mengatakan, tingkat pendidikan yang ditempuh seorang individu mempengaruhi tingkat pernikahan usia dini pada suatu daerah.

Pasalnya, dengan adanya pemahaman bahwa sekolah merupakan salah satu kewajiban seorang warga negara, masyarakat akan sadar bahwa pernikahan hal yang dapat dilaksanakan usai selesainya kegiatan pendidikan formal.

Melalui program belajar 12 tahun, diharapkan tumbuh kesadaran dari masyarakat, sehingga tingkat putus sekolah akibat menikah muda dapat ditekan.

“Diharapkan peningkatan pendidikan dapat mencegah adanya pernikahan dini sehingga anak-anak tidak putus sekolah,” katanya kepada KALAMANTHANA, Rabu (22/11/2017) di Buntok.

Menurutnya, melalui program belajar 12 tahun dan sosialisasi pergaulan bebas yang tengah digalakkan dapat meningkatkan kesadaran anak muda di wilayahnya.

Dengan menanamkan dalam diri bahwa masa depan masih panjang dan harus diisi dengan berbagai kegiatan yang positif, mengingat masa muda adalah masa emas bagi seseorang untuk membentuk mentalitas dan mengoptimalkan potensi diri.

“Perlu ditekankan, pendidikan itu penting sehingga harus dilaksanakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Maka untuk itu diharapkan tidak ada lagi anak putus sekolah karena kenakalan remaja atau pernikahan dini,” jelas Aty Djoedir.

Ia juga mengatakan, selain penekanan bidang pendidikan, pihak pemerintah daerah juga menggalakkan sosialiasi terkait bahaya dan dampak kenakalan remaja dan pergaulan bebas terhadap keberlangsungan masa depan.

Hal tersebut merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya pernikahan di usia muda. Dirinya  menegaskan, pergaulan bebas bukan budaya bangsa, sehingga harus dihindari karena menghancurkan masa depan para penerus bangsa.

“Maka untuk itu harus pintar dalam memilih pergaulan, karena lingkungan yang baik, tentunya dapat mempengaruhi pola pikir,” tambah Aty Djoedir.

Wanita yang akrab dengan masyarakatnya tersebut menambahkan, dengan adanya pendidikan 12 tahun, paradigma bahwa hidup cukup bisa membaca, berhitung dan menulis dapat dirubah.

Karena pada dasarnya, pendidikan tidak sebatas hal tersebut, melainkan ke arah pembentukan karakter manusia dan pengembangan pola pikir.

“Dengan belajar, wawasan akan terbuka sehingga kita mampu membaca situasi dan mengambil kesempatan yang ada untuk berkembang lebih baik,” pungkasnya. (dgd)

Tags: , ,

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan